Rabu, 31 Oktober 2012

Mau Poligami, Gaji Minimal Rp 2 Juta

Mau Poligami, Gaji Minimal Rp 2 Juta
KALIMAT di atas saya kutip persis dengan judul asli tulisan di sebuah media cetak. Jika Anda berada di Kabupaten Kediri, standar gaji di ataslah yang akan diajukan pihak Pengadilan Agama sebagai salah satu rekomendasi agar permohonan poligami Anda bisa disetujui.
"Hanya gaji Rp 2 juta? Ah., kecil..:
Eit, tunggu dulu. Ternyata masih banyak syarat-syarat lain yang ditetapkan oleh Pengadilan Agama (PA) Kediri sebagai pra syarat pengajuan poligami, antara lain:


• Surat pernyataan siap dimadu dari istri pertama
• Surat pernyataan berlaku adil
• Surat keterangan penghasilan
• Daftar kekayaan
• Istri minimal 10 tahun tidak memberikan anak
• Istri tidak bersedia atau tidak mampu melayani suami

Jika semua syarat di atas dipenuhi, maka ijin poligami diperkirakan sudah turun dalam waktu sekitar 1 bulan.

"Afahukmal jahiliyyati yabghuum.. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?
Wa man ahsanu minallohi hukman liqoumin yuqinun. Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yangyaqin."

Dalam A1 Quran surah A1 Maidah (5) ayat 50 di atas secara jelas Allah menyebut hukum buatan manusia sebagai hukum jahiliyah,

yang tentu saja tidak lebih baik dari hukum buatan Allah SWT. Mengapa Pengadilan Agama justru mengedepankan aturan bikinan sendiri, yang sangat mempersulit pihak-pihak yang berniat melakukan poligami, sementara A1 Quran dan Hadits memberikan kemudahan regulasi? Memang PA tidak melarang poligami tapi dengan tingkat kesulitan syarat-syarat seperti di atas, maka itu tidak ubahnya (secara tidak langsung) sama dengan melarang praktek poligami itu sendiri. Mengapa tidak ada badan-badan negara yang membuat persyaratan yang mempersulit orang berzinah dan bermaksiat seperti itu?

Kalau sudah seperti ini, hukum siapakah yang kita jadikan pegangan? Mengapa poligami yang mubah dan sesuai syariat Islam dipersulit, sementara prostitusi yang jelas-jelam haram malah difasilitasi dengan adanya lokalisasi dan proyek kondomisasi bagi pelacur?

Saya kenal beberapa orang yang sukses berpoligami. Tapi tak pernah ada keberanian untuk menyinggungnya sebagai materi pembicaraan. Ini khan masalah yang sangat pribadi?

Maka sungguh aneh ketika di koran-koran muncul berita tentang sebuah partai politik berniat mencopot salah satu tokohnya karena berpoligami. Apalagi alasannya adalah masih adanya wanita yang menganggap poligami melukai perasaan mereka, dan itu dikuatirkan bisa berpengaruh signifikan pada perolehan suara Pemilu, mengingat suara perempuan termasuk yang diincar partai.

Jika tokoh itu selingkuh, silahkan saja mau dicopot. Dipenjara juga tak masalah. Tapi dikenakan sanksi karena berpoligami? Oh no... dimana akal sehat itu.

Saya tak kenal istri kedua tokoh politik itu, dan koran juga tak memberitakan. Tapi bayangkan bila Anda berada dalam posisi dia, janda berusia 40 tahun dengan 3 orang anak. Terlepas jodoh ada di tangan Tuhan, kira-kira gampang nggak mencari suami yang masih bujangan? Kebanyakan (kalau nggak mau dibilang semua) perjaka akan berpikiran mencari istri yang masih gadis, dan tentu saja usianya muda. Usia 40 tahun, janda, apalagi sudah mempunyai 3 anak yang harus dibiayai, siapa perjaka yang "berani" meminangnya?

Atau mungkin Anda berpikir, mengapa nggak mencari duda saja? Heh, memangnya gampang? Kan itu juga nggak mudah menemukannya, (walaupun lewat jasa biro jodoh atau kontak jodoh). Atau seperti salah satu teman saya bilang begini: "Wanita itu kuat kok, mereka memang membutuhkan pemenuhan kebutuhan seksualnya, tapi mereka kan nggak harus menerima pinangan jadi istri kedua yang berpeluang melukai wanita lain (istri pertama) ? Mereka bisa kan misalnya menjadi pekerja sosial, atau menyibukkan diri urus anak? Hal-hal yang bisa mengalihkan dorongan seksual dia."

Saya tak mau lagi mendebat teman yang satu itu. Poligami bukan cuma urusan ranjang. Dalam hal ini coba kita berpikir bahwa poligami adalah sebuah solusi Islam yang agung. Dia menjadi jalan keluar bagi pihak-pihak yang memerlukannya. Mungkin si ulama dan tokoh politik terkenal itu sedang dalam posisi membutuhkan wanita kedua. Kalau mereka memang mampu dan sanggup berpoligami dengan baik, biar saja mereka sendiri yang mempertanggung jawabkan kepada keluarga dan Allah. Wanita-wanita yang dijadkan istri pertama itu jelas kedudukannya dalam Islam kalau mereka ikhlas, derajat mereka sebagai wanita diangkat tinggi-tinggi oleh Islam karena dipoligami (yang halal) dan bukan dijadikan TTM alias teman tapi mesum (yang haram) sebagaimana kasus video mesum anggota DPR tempo hari.

Kalau alasannya banyak keluarga berantakan gara-gara suami menikah lagi, menurut saya lebih banyak kasus itu kita temukan di monogami. Kan juga banyak suami monogami yang tak bertanggung jawab? Yang jahat dengan anak-anaknya. Atau yang selingkuh. Kasus keluarga yang bejat, di monogami jumlahnya lebih banyak daripada yang poligami. Lalu apa karena itu lantas kita berteriak lantang agar monogami dilarang?

Berpoligami atau monogami adalah sebuah pilihan yang sangat individual. Ketika seseorang memutuskan melakukan ini, semoga saja mereka sudah mengukur kemampuan dirinya. Bagaimana nanti soal nafkah keluarga. Bagaimana menanggapi respon pro kontra keluarga dan masyarakat. Bagaimana menghadapi anak-anaknya.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar, dan beri kekuatkan kepada kami untuk mengerjakannya... dan tunjukkan pula kepada kami bahwa yang salah itu salah dan berikan kekuatan kepada kami untuk menjauhinya... Amien.

Hak-Hak Istri dalam Poligami

"Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah." (HR. Lima)

1 komentar:

Poskan Komentar