Jumat, 11 Januari 2013

Biro Jodoh Jakarta

Biro Jodoh Jakarta
Biro Jodoh Jakarta, Mencari jodoh di daerah jakarta, kontak jodoh  jakarta online terpercaya. Wanita dan pria single jakarta beranjak meninggalkan kafe dengan aroma parfum yang menghambur ke segala ruangan, perlahan hilang dari penciuman lelaki itu seiring langkah kepergian Winati ke-luar kafe. Lelaki itu memandang kepergian Winati dengan wajah temaram, seakan tidak tega jika pertemuan yang singkat itu harus berakhir dengan cepat.


Kini lelaki itu duduk sendiri. Sebagaimana hari-hari biasa, setelah Winati menikah dengan orang lain empat bulan lalu, lelaki itu kerap lupa waktu. la tidak segera kembali ke kantor dengan cepat, setelah meng-habiskan makan. Tapi masih duduk di sudut kafe dengan pan-dangan kosong menatap ke arah jalanan. Dan tatkala lelaki itu dibekap kenangan, tiba-tiba handphone di saku celananya berdering.

Cepat-cepat, dia merogoh handphone dan berharap cewek jakarta yang menelponya siang itu. Tapi harapan itu, hanya membuatnya kecewa lantaran pang-gilan itu datang dari kantornya. la lalu bangkit, berjalan ke arah meja kasir. Petugas yang duduk di meja kasir, menyambutnya dengan ramah dan hangat.

"Dua piring soto, dan dua gelas es jeruk!" kata lelaki itu, dengan tergesa.

Tetapi petugas di meja kasir tak menanggapi segera dengan meraih kalkulator, menghitung sebagaimana biasa, melainkan menatap lelaki itu dengan he-ran, seraya melihat ke arah meja yang barusan ditinggalkan la-ki-laki itu. "Bukankah, bapak makan cuma satu piring?"

"Tidak, nona. Saya tadi memesan makanan dua, dan makan berdua dengan seorang wanita, tetapi dia kemudian pergi lebih dulu..."

"Ah, bapak jangan bergu-rau!"

"Bergurau?" tepis lelaki itu, tidak percaya. "Jelas tidak, no-na! Karena tadi saya makan berdua dengan seorang wanita, hanya saja dia kebetulan pulang lebih dulu.."

"Tapi dari tadi, saya melihat bapak duduk sendiri. Bapak ju-ga memesan makan satu piring, bukan dua piring!"

cowok jakarta itu menoleh, meneliti meja tempat dia makan. la cuma melihat satu piring dan satu gelas yang sudah tandas. Tetapi, semua pengunjung dan pen-jaga kasir tidak tahu apa yang ada dalam ingatan lelaki itu. Dan penjaga kasir, tak heran dengan ulah lelaki yang sering menjeng-kelkan itu apalagi sejak empat bulan lalu, dia ditinggal pergi oleh kekasihnya; menikah dengan orang lain, la kerap duduk di sudut kafe menatap lalu la-lang kendaran yang bergelom-bang, mirip ilalang diterpa angin.

Tapi lelaki itu tidak segera membayar, masih berdiri kaku di depan kasir dengan panda-ngan ganjil, tajam mengingat kenangan yang retak, meng-gumpal dalam labirin waktu, serupa lesing gelombang yang le-pas dari kendali dan mencera-but ingatan.

Dan, panas siang hari itu seperti membisu. Para pengunjung kafe, menatap lelaki itu hanya dengan menggeleng-ge-lengkan kepala.

1 komentar:

Poskan Komentar